Minggu, 28 Juli 2013

HARUS MENJAGA PERKATAAN


Bacaan Alkitab: Kolose 4:1-6

"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang."  (Kolose 4:6)

Renungan minggu ini mengingatkan kita agar hati-hati dengan mulut kita/ucapan kita, karena kekuatan dari perkataan adalah sangat luar biasa. Apalagi kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa menjadi teladan/kesaksian bagi orang-orang di luar Tuhan, salah satunya melalui ucapan mulut kita. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12b).

Banyak orang Kristen yang ketika berada di luar ‘area suci’ (gereja) tidak bisa menguasai mulutnya; masih suka mengumpat, berkata-kata kasar, jorok, membicarakan kelemahan/kekurangan pendeta, suka menggosip dan sebagainya. Alkitab mengatakan,Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang-orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19) Mulut kita bisa menjadi sangat berkuasa. Ada banyak orang yang beroleh kekuatan dan dibangkitkan semangat hidupnya akibat mendengarkan perkataan dari orang lain. Sebaliknya ada pula yang menjadi terluka, hancur, frustasi dan putus asa oleh karena terbunuh oleh perkataan yang disampaikan oleh orang lain.

Lalu, bagaimana seharusnya perkataan orang Kristen itu?
1.  Perkataan Penuh Kasih. Artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah terlebih dahulu dipertimbangkan dengan matang, sehingga orang lain yang mendengarkannya dibangun, dikuatkan, dihibur serta didorong kearah yang baik.Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)
2.  Perkataan Yang Menyampaikan Firman. Tertulis Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;” (1 Petrus 4:11a). Ini bukan berarti kita menggurui atau sok pintar, tetapi perkataan kita hendaknya sesuai dengan firman Tuhan, bermuatan kesaksian dan nasehat sehingga orang yang mendengarnya diberkati.


Bagaimana dengan perkataan saudara selama ini? Marilah kita menjaga setiap perkataan yang kita ucapkan dan belajar mengucapkan kata-kata berkat..

Rabu, 24 Juli 2013

DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS (MINGGU, 21 JULI 2013)

Oleh: Pdt. Michael

Bahan Kotbah: Efesus 5:15-21

Setiap orang percaya merindukan hidup yang dipenuhi oleh Roh kudus. Seperti surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat yang ada di Efesus karena mereka tinggal di lingkungan orang- orang penyembah berhala dan Efesus merupakan kota perdagangan terbesar ke 3 pada waktu itu, sehingga sangat berpengaruh pada kota-kota sekitarnya. Paulus merasa perlu untuk mengingatkan jemaatnya untuk hidup dalam Roh. Yesus pun menginginkan kita hidup dipimpin dipenuhi oleh Roh Kudus.

Bagaimana caranya kita dipenuhi oleh Roh Kudus?

1. Miliki Kearifan dan Pengertian akan Kehendak Tuhan 
    
5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Arif : cerdik yang Tuhan tanamkan dalam hidup kita sehingga kita dapat bersosialisasi dengan orang lain. Tuhan memberi hikmat dalam kita berhubungan dengan sekitar. Jemaat Efesus memiliki pemikiran yang cerdik (kearifan) untuk tetap menjaga kekudusan dalam bergaul dengan orang di sekitarnya.

2. Memiliki Keintiman dengan Tuhan.    

5:18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
5:19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

Tuhan menginginkan setiap kita memiliki keintiman (berhubungan yang manis) dengan Dia secara terus menerus yang berarti setiap kita melakukan komunikasi dengan Tuhan dalam setiap saat seperti dalam Yakobus 4:15-17 (Yakobus mengingatkan para pengusaha untuk selalu bertanya pada Tuhan tentang kehendak-Nya dalam berbisnis).

3. Miliki Sukacita yang Penuh di Dalam Tuhan.

Sukacita merupakan keputusan untuk percaya penuh pada Tuhan tidak tergantung pada situasi daan kondisi kita. Tuhan memberi kehendak bebas pada kita, tinggal bagaimana keputusan kita “sukacita atau dukacita”. Jemaat Efesus tidak takut dengan masyarakat sekitar yang masih dalam penyembahan berhala, mereka belajar dari cara hidup orang Israel yang mengandalkan Tuhan (mujizat raja Daud mengandalkan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup-Nya, dan dia menikmati pembelaan Tuhan yang luar biasa). Ambil keputusan hari lepas hari sehingga kita punya kearifan untuk memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan. Penyerahan secara total dapat terjadi dalam hidup kita kalau kita mau merubah pola pikir kita (Roma 12:2). Perubahan yang terjadi akan menjadi gaya hidup untuk menghasilkan hidup yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Haleluya amin.....

Sabtu, 20 Juli 2013

BUANG SEGALA AKAR PAHIT

Bacaan :Ibrani 12:12-15

"Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yag mencemarkan banyak orang."  (Ibrani 12:15)

Apakah Saudara dapat bersukacita ketika hati Saudara dipenuhi oleh kepahitan?  Tentu tidak!  Kepahitan hanya akan merusak suasana hati kita;  sukacita sirna dan beban hidup serasa makin berat.  Namun Tuhan Yesus berkata,  "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  (Matius 11:28).  Bila saat ini kita sedang berbeban berat biarlah kita tidak menanggungnya sendiri tetapi kita serahkan kepada Tuhan, karena bagi Dia tidak ada yang mustahil. Kalau kita membiarkan diri hanyut dalam permasalahan yang ada, lalu kepahitan menguasai hati kita, apakah kita bisa menjadi kesaksian bagi orang-orang yang berada di sekitar kita?

Perlakuan yang tidak baik, tindakan semena-mena, merendahkan, memfitnah, menyakiti, melontarkan kata-kata kotor dan sebagainya seringkali menyebabkan seseorang mengalami kepahitan.  Tidak adanya pengampunan atau karena adanya iri hati dalam diri kita juga menyebabkan kita makin terbelenggu oleh kepahitan. 

Kalau kita mampu menyikapi setiap masalah dengan benar kita tidak akan masuk dalam kepahitan.  Orang yang hidup dalam kepahitan mustahil dapat berdoa.  Kepahitan juga semakin membuat orang menjadi tawanan dosa.  Kepahitan itu identik dengan ikatan kejahatan, karena jika kita biarkan kita akan menjadi tawanan  dosa. Kejahatan, kebencian dan dendam hanya akan menjadi penghalang berkat Tuhan dicurahkan. 

Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang sulit sekali mengampuni orang lain, hatinya masih dipenuhi oleh rasa sakit hati, kepahitan, dendam.  Bukankah hal ini menunjukkan bahwa kita belum bertobat dengan sungguh?  Petobat sejati pasti menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatannya  (baca  Mat 3:8).  Adapun buah-buah itu adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri  (baca  Galatia 5:22-23).  Mengampuni bukan berarti kalah, justru merupakan jalan menuju kemenangan untuk meraih berkat-berkat Tuhan.  Jadi  "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!"  (Roma 12:21). 
Maka, percayalah bahwa orang benar tidak akan ditinggalkan oleh Tuhan,  sebab Ia  "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;"  (Mazmur37:23).

Kepahitan adalah senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan kita!

Jumat, 19 Juli 2013

JANGAN ADA PERKARA DI ANTARA KITA (MINGGU, 14 JULI 2013)

Oleh :Pdt Herry Setyono

Ayat Kotbah : 1 Korintus 6:6-11

6:6 Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya?
6:7 Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?
Dalam berhubungan dengan orang lain seringkali timbul perkara karena ketidak-adilan, merasa dirugikan atau merasa telah diambil haknya. Biasanya hal ini   terjadi dengan orang yang mempunyai hubungan dekat. Perkara jarang terjadi diantara mereka yang tidak saling kenal.

6:8Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu.
Sering di dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan ketidakadilan yang mendatang-kan kerugikan bagi saudara-saudara kita. Kita merasa benar, merasa lebih baik lalu melakukan tidakan untuk membenarkan diri sendiri meskipun tindakan kita merugikan saudara-saudara kita sendiri. Dan akibatnya menimbulkan perkara yang berakibat rusaknya hubungan dengan saudara ataupun orang lain.
 
6:9. Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit,
6:10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah adalah komunitas orang percaya, menyangkut hak-hak orang lain, yang disertai dengan adanya hubungan. Dan hubungan ini akan nampak sejauh mana Roh Kudus berperan untuk mengerjakan kebaikan demi kebaikan. Kerajaan Allah bukan masalah makan dan minum, melainkan damai sejahtera sukacita oleh Roh Kudus. Dan orang yang sesat tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
 
6:11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Dahulu kehidupan kita melalukan hal-hal yang sesat. Tetapi sekarang saat kita member diri disucikan, kita telah dikuduskan dan dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus dan dalam Roh Allah kita.
  1. DISUCIKAN (tidak bercampur/dimurnikan) Untuk menjalin hubungan saudara harus menyadari sebagai apa dan siapa diri saudara terhadap orang lain, yaitu bahwa Allah dipertaruhkan di dalamnya. 
  2. DIKUDUSKAN (dipisahkan untuk suatu maksud). Saudara adalah rasul untuk menyampaikan rancangan Tuhan terhadap orang lain. Saudara adalah mulut Tuhan yang dikuduskan untuk menyampaikan kehendak Allah. 
  3. DIBENARKAN: Identitas saudara jelas menjadi apa dan siapa saudara. Saudara adalah imam-imam bagi Allah yang berdoa untuk orang lain. Mengambil beban orang lain untuk dibawa kehadapan Tuhan.
Penyucian, pengudusan dan pembenaran itu proses. Mungkin saudara mengalami jatuh bangun, tetapi ini adalah proses yang membawa saudara mempunyai karakter yang seukuran dengan Kristus. Supaya rupa dan gambar Allah itu akan nampak di dalam kehidupan saudara.

HALELUYA… TUHAN MEMBERKATI.