Sabtu, 21 September 2013

DOA BAPA KAMI (3)

Ringkasan Kotbah Minggu, 15 September 2013 – Oleh Pdt. Herry Setiono

Bacaan Alkitab: Matius 6:9-13 

Aktivitas Bapa di surga menjadi aktivitas Tuhan Yesus, yang bisa kita lihat di dalam pekerjaan-Nya. Semua yang dilakukan Tuhan Yesus merupakan kebutuhan setiap orang

DIKUDUSKANLAH NAMAMU adalah sebuah doa yang diucapkan Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa Bapa itu KUDUS, Firman yang menjadi manusia yaitu Tuhan Yesus itu KUDUS dan Karakter Bapa nampak di dalam Tuhan Yesus .Oleh sebab itu setiap orang yang percaya kepada-Nya juga harus menampakan karakter Kristus.

Yohanes 17:2 “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. “

Bapa memberi KUASA kepada anak-Nya untuk mengelola segala yang hidup. Otoritas yang diberikan oleh Bapa kepada Tuhan Yesus adalah untuk menopang segala sesuatu melalui Firman-Nya .
Hanya dalam nama itu yaitu nama YESUS ada kandungan otoritas Allah di dalam-Nya dan ada tanggung jawab untuk dilaksanakan.

Yohanes 17:4 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”

Pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah pekerjaan dalam kapasitas KRISTUS yang bertindak untuk penyelamatan. Nama Yesus mengikat Allah untuk mengambil tindakan dalam penyelamatan, maka setiap orang yang mau selamat tidak bisa terlepas dari nama itu. Nama YESUS...!! Ketika nama itu disebut oleh saudara dan saya, Allah akan bertindak dan menangani saudara dan saya.

Yehezkiel 20:6 “Pada hari itu Aku bersumpah kepada mereka untuk membawa mereka dari tanah Mesir ke tanah yang Kupilih baginya, negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, tanah yang permai di antara semua negeri.”

Tindakan Allah dalam penyelamatan sudah dilakukan Allah terhadap bangsa Israel.Bangsa Israel dibawa ke tanah perjanjian ,demikian saudara dan saya dipimpin untuk masuk dalam tanah perjanjian Yerusalem baru.

Yehezkiel 20:9 “Tetapi Aku bertindak oleh karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa, di mana mereka berada. Di hadapan bangsa-bangsa itu Aku menyatakan diri kepada mereka dalam hal Aku membawa mereka keluar dari tanah Mesir”.

DIKUDUSKANLAH NAMAMU adalah kemurahan Allah yang terus mengalir dan tindakan Allah yang terus menyertai. Israel sering memberontak (baca Yehezkiel .20:8) dan kemudian Allah memberi ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan

Mungkin saat ini kita ada dipadang gurun,kita merasa Allah sedang bertindak keras di dalam hidup kita, tapi ketahuilah, itu Allah lakukan supaya nama-Nya tidak dinajiskan dalam hidup kita. ”Tetapi Aku menarik tangan-Ku kembali dan bertindak karena nama-Ku, supaya itu jangan dinajiskan di hadapan bangsa-bangsa yang melihat sendiri waktu Aku membawa mereka ke luar. Walaupun begitu Aku bersumpah kepadanya di padang gurun untuk menyerakkan mereka di antara bangsa-bangsa dan menghamburkan mereka ke semua negeri,” (Yehezkiel 20:22-23)

Lakukanlah kehendak Tuhan, karena Dia lembut.
Haleluya..!!! Amin.

Tuhan Yesus Memberkati.

@andrian.

DOA BAPA KAMI (2)

Ringkasan Kotbah Minggu, 08 September 2013 – Oleh Pdt. Herry Setiono


Bacaan Alkitab: Matius 6:9-13 


Ketika kita berbicara kepda Bapa, kita tahu persis pribadi yang ada di hadapan kita. Kita mengenal karakter, tanggung-jawab-Nya kepada kita.Kita menjalin hubungan dengan Dia, menghormati Dia, memperlakukan Dia sesuai tanggung-jawab-Nya kepada kita.

Bapa Kami yang ada di Surga

Kita punya Bapa di surga dengan segala tanggung-jawab yang melekat. Seorang bapa punya kerinduan untuk bersama, bercengkrama, dan tinggal bersama. Hati Bapa menderita ketika anak-anak-Nya menjauh dari Dia. Bapa yang sempurna ada pada Bapa dan Yesus. Bapa dan Anak adalah satu. Ketika Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, Ia memiliki kerinduan yang sama seperti Bapa. Hati anak tertuju kepada Bapa ketika Ia meminta, mencari, dan mengetok (baca Matius 7:7-8).


Permintaan Yesus:
• Dikuduskanlah Nama-Mu
• Datanglah kerajaan-Mu
• Jadilah kehendak-Mu


Doa Yesus yang pertama adalah kerinduan kehadiran Bapa dalam hidup-Nya. Penyembahan yang benar adalah penyembahan dalam Roh dan kebenaran (tercermin dalam Doa Bapa kami). Penyembahan adalah memberikan hati untuk dipenuhi, memberikan hati untuk dihadiri dalam Roh adalah meminta kehadiran Bapa untuk memenuhi hidupnya.

Menyembah terkait dengan surga, nama, kerajaan, dan kehendak. Pasrah berarti memberi hati dan roh untuk menyembah supaya kita menjadi sasaran keempat hal tersebut yaitu: surga, nama, kerajaan, dan kehendak. 


Menyembah berarti melekat, menjadi satu roh berarti karakter Bapa terbangun dalam hidup kita ( ada kepasrahan diri untuk Allah).


1. Dikuduskanlah Nama-mu, di mana?
Kudus : dipisahkan
Di surga semua memberi hormat kepada Bapa. Nama-Nya dikuduskan di dalam hati orang yang punya sikap kerendahan hati (seperti ke-24 tua-tua yang melepaskan mahkota). Nama Bapa dikuduskan di dalam penyembah-penyambah yang benar (orang- orang yang membuka hatinya untuk Allah menyatakan karakter, sehingga karakter, hakekat Allah dinyatakan dalam hidup kita). Nama Bap diletakan, dikuduskan dalam kehidupan orang Israel (penyembah- penyambah dalam Roh dan kebenaran/ orang yang melekat dengan Allah).Nama Bapa diletakan, dikuduskan dalam kehidupan orang Israel.(penyembah-penyambah dalam Roh dan kebenaran/orang yang melekat dengan Allah).

2. Datanglah kerajaan-Mu
Kehadiran kerajaan/ pemerintahan Allah menjangkau dalam hidup kita. Datanglah keraajaan-Mu berarti meminta bapa mengarahkan, menguasai hidup kita untuk membawa kita ke masa depan dalam kerajaan 1000 tahun damai.

3. Jadilah kehendak-Mu
Apa kehendak Bapa??
Yohanes 4:32 “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan kehendak-Nya. Berikanlah kami makanan yang secukupnya berarti melakukan kehendak-Nya dan menyele- saikan pekerjaan-Nya. Amin 


@Dra. Rajiyem

Jumat, 20 September 2013

MASALAH : KESEMPATAN UNTUK PRATEK FIRMAN

Bacaan Alkitab: Mazmur 34:1-23

"Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20)
 

Mazmur 34 ini ditulis oleh orang yang sangat dekat dengan Tuhan.  Meskipun demikian ia menyadari bahwa ia tetap bukanlah orang yang kebal masalah.  Siapa pun kita, di dalam Tuhan atau di luar Tuhan, semuanya pasti tak luput dari masalah.  Hanya orang mati yang tidak punya masalah.  Jadi jangalah heran, terkejut atau kecewa jika dalam pengiringan kita kepada Tuhan ada masalah yang menerpa.  Yang penting kita menyadari bahwa kekristenan adalah IMANUEL.  Tuhan beserta kita, bahkan penyertaanNya atas kita sampai kepada akhir zaman 

Daud menyatakan bahwa ada dua macam orang yaitu orang benar dan orang fasik.  Saat keduanya dalam masalah, apa yang membedakannya?  Ketika orang benar dalam masalah, ada tangan Tuhan yang akan memberikan pertolongan.  "Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya."  (Mazmur 34:18).  Sedangkan bagi orang fasik, kemalangan justru akan mematikannya karena tidak ada pembelaan dari Tuhan.  Saat orang benar menghadapi masalah ada Tuhan yang menyertainya, tetapi orang fasik akan menghadapi masalahnya seorang diri.

Tuhan tidak mendisain kita untuk bebas dari masalah, melainkan untuk memiliki persekutuan yang karib dengan Dia.  Karena itu bangunlah kekariban dengan Tuhan dengan merenungkan firmannya siang dan malam.  Pada awalnya firman yang kita terima adalah logos, dan belum hidup dalam kita.  Saat firmanNya berkata jangan kuatir, jangan takut dan sebagainya, sementara hidup kita baik-baik saja, bisakah kita mengaplikasikan firman itu?  Tuhan mau setiap firman yang Dia berikan menjadi solusi untuk setiap masalah yang datang.  Jadi masalah diijinkan Tuhan terjadi sebagai kesempatan bagi kita mempraktekkan firman.  Ini berbicara tentang respons kita terhadap masalah.  Bila kita menanggapi setiap masalah dengan sikap yang benar, kita akan melihat kuasa firman itu bekerja dalam kita.

Banyak orang Kristen malas membaca firman Tuhan sehingga hatinya dipenuhi oleh hal-hal negatif;  ketika masalah datang, ia pun gagal sebagai pemenang!

Kamis, 05 September 2013

KRISTEN YANG MEMILIKI KEPEKAAN ROHANI

Bacaan  Alkitab: Efesus 4:1-16 

 

"sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,"(Efesus 4:13).


Tuhan menghendaki kita menjadi orang-orang Kristen yang makin hari makin bertumbuh di dalam kedewasaan rohani. Orang yang dewasa telah m
eninggalkan sifat kanak-kanaknya (baca 1 Korintus 13:11). Di dalam Ibrani 5:13-14 dikatakan,"Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat." Orang yang dewasa rohani memiliki pancaindera yang terlatih sehingga dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak berkenan. Inilah yang disebut dengan kepekaan rohani.

Kepekaan rohani adalah kemampuan memahami pimpinan atau kegerakan Roh Kudus, mengerti kehendak Tuhan, merespons kasih dan kebaikanNya, serta menyadari kesalahan dan pelanggaran yang telah diperbuat. Orang yang memiliki kepekaan rohani akan memiliki kehidupan yang selaras dengan firman Tuhan dan seirama dengan hati Tuhan. Kepada jemaat di Filipi rasul Paulus menasihati,"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,"(Filipi 2:5).

Bagaimana supaya kita punya kepekaan rohani? Terus melatihnya dengan belajar mengutamakan perkara-perkara rohani sebagaimana rasul Paulus sampaikan,"...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada,...Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."(Kolose 3:1-2), karena kepekaan rohani tidak terjadi dalam semalam. Artinya kita harus terus berproses untuk menjadi pribadi yang peka rohani. Proses itu harus kita kerjakan dari hari ke sehari, seumur hidup kita, selama kita masih bernafas.

Semakin kita mengutamakan perkara rohani semakin dengan sendirinya kita akan memikirkan Tuhan dan firmanNya setiap hari.

Milikilah kerinduan selalu menyenangkan hati Tuhan dengan melakukan apa kehendakNya sebagai balasan kebaikan dan kasih Tuhan yang telah kita terima.

@Maz Yosan

DOA BAPA KAMI - MINGGU 01 SEPTEMBER 2013

Oleh Pdt. Herry Setiono

Bacaan Alkitab: Matius 6:9-13
 
6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10. datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13. dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Kepada murid-murid-Nya Yesus mangajar dalam hal berdoa, yaitu “DOA BAPA KAMI”. Doa Bapa Kami adalah suatu kerangka doa.
Dia menginginkan murid- murid-Nya menempati posisi sesuai yang Dia inginkan. Jalannya kehidupan adalah jalanannya kehidupan dalam Kristus Yesus yang sesuai dengan penggenapan doa yang diajarkan Yesus.
Yesus mengajar suatu doa yang dimulai dengan pengakuan bahwa Allah itu Bapa. Jalannya kehidupan dalam Kristus Yesus adalah jalannya kehidupan orang- orang yang punya Bapa, yang berdomisili di surga (punya ketergantungan pada pemeliharaan Bapa).
Doa Bapa kami menunjukan bahwa Bapa punya kediaman (surga), nama, kerajaan, dan kehendak.
Jalannya kehidupan dalam Kristus terkait dengan 4 hal tersebut, yaitu:

1. SURGA
Konsentrasi hidup kita tertuju pada surga. Kalau nama kita tercatat di surga berarti kita terkait dengan surga, ada bagian kekal yang menjadi hak kita tersimpan di surga. Di surga Allah bertahta, dari tahta-Nya Ia berwenang mengatur segalanya. (baca 1 Kor 8:6) jalannya kehidupan dalam Kristus adalah jalannya kehidupan orang-orang yang punya kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Dia. Bapa menentukan segala sesuatu ada tujuannya. Keberadaan kita pun ada tujuannya. Yesus mengalami penggenapan doa itu di dalam Yoh 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu." Ketika kita melakukan kehendak-Nya kita mengecap kesatuan roh dengan Bapa. Jalannya kehidupan orang- orang yang mengarahkan pandangan ke surga adalah jalannya kehidupan dalam kristus Yesus.

2. NAMA
Dikuduskanlah NAMAMU. Nama menyatakan sifat- sifat : hakekat, karakter, dan karya. Nama-Nya terpancar dalam sifat karakter dan karya-Nya. Kita berjalan dalam terang nama-Nya.Bapa mengasihi kita karna karakter-Nya (KASIH). Nama-Nya punya sangkut paut dengan karya. Dia menyediakan, mencukupi, dan mengadakan apa yang kita perlukan. Doa Bapa Kami digenapi dalam jalannya kehidupan dalam Kristus Yesus (jalannya orang- orang yang disinari dengan yang memiliki sifat dan karakter luar biasa: mengasihi, mengampuni, menyembuhkan, membela, dll). Kita mengenal karya-Nya. Hakekat Bapa adalah kekal. Kita ada dalam kreativitas Allah yang luar biasa, oleh karna itu temukan potensi dan bergeraklah dengan potensi yang telah Allah taruh dalam hidupmu.

3. KERAJAAN
Kerajaan punya Bapa. Sekarang kerajaan itu diserahkan pada Yesus, dan Yesus adalah rajanya, “Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.”(1 Kor 15: 24). Bapa punya tempat kediaman : surga. Bapa punya karakter, hakekat, dan karya : nama. Bapa punya pemerintahan : kerajaan. Bapa punya kehendak : kehendak.

(dilanjutkan minggu depan).

@Dra. Rajiyem

Sabtu, 31 Agustus 2013

MEMBANGUN BAIT SUCI

Ringkasan Kotbah Minggu, 25 Agustus 2013 – Oleh Pdt. Marbowo

Bacaan Alkitab: Hagai 1:5-11

“Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN”(Hagai 1:8)

Bait suci adalah tempat Tuhan menyatakan kemulyaan-Nya, dimana Tuhan berkenan bertemu dengan umat-Nya dalam peribadatan.

Bangsa Israel membiarkan bait suci itu menjadi reruntuhan, bangsa Israel melalaikan keberadaan bait suci dan tidak memperhatikan lagi tempat perjumpaan dengan Tuhan. Bangsa Israel lebih tertarik memperhatikan urusan pribadinya, sehingga mengakibatkan kondisi yang mempengaruhi segenap kehidupan bangsa Israel.

Bangsa Israel harus menerima dampaknya karena membiarkan bait suci menjadi reruntuhan.

Mereka mengalami kerugian dalam semua aspek kehidupan, menabur banyak tapi hasilnya sedikit.

Pertanyaannya adalah apakah kita harus membangun bait suci kembali?
1 Korintus 3 : 16, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

Hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang tahu sampai dimana pembangunan bait suci itu dibangun dalam hidup kita. Apa yang sedang terjadi dengan bait suci ini, sudah layak atau sudah menjadi reruntuhan...? Mari kita lihat apa yang kita dapatkan disana, di bait suci, yaitu: tubuh dan hidup kita.

Hagai 1:8, “Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.”

Saat kita disakiti kita kecewa kita marah dan kita dendam, saat terhimpit masalah kita kehilangan harapan, berarti bait suci itu telah hancur.

Tetapi saat kita mengampuni, saat kita mengasihi, saat kita mempunyai pengharapan berarti kita sedang membangun bait suci itu. Sehingga roh,jiwa dan tubuh kita berfungsi sesuai dengan kehendak Tuhan.
Hagai 1:9, ”Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya. Oleh karena apa? demikianlah firman TUHAN semesta alam. Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”

Hagai 1:10, “Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya,”
Hagai 1:11, “dan Aku memanggil kekeringan datang ke atas negeri, ke atas gunung-gunung, ke atas gandum, ke atas anggur, ke atas minyak, ke atas segala yang dihasilkan tanah, ke atas manusia dan hewan dan ke atas segala hasil usaha."


Tuhan juga mengingatkan supaya kita tidak mengandalkan diri sendiri, karena ketika kita mengandalkan diri sendiri, walaupun kita bekerja tanpa kenal lelah tapi tak akan mendapat apa-apa.

Kunci keberhasilan adalah iman yang tidak goyah dan terus mengerjakan pembangunan bait suci, yaitu memberi diri untuk terus menerus rela dibangun oleh Tuhan.

Amin,,

Tuhan Yesus Memberkati..
 
@Andrian

Jumat, 23 Agustus 2013

IMAN, PENGHARAPAN DAN KASIH (2) - MINGGU, 18 AGUSTUS 2013

(Lanjutan Kotbah Minggu, 28 Juli 2013)

Oleh Pdt. Herry Setiono

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.(1 Korintus 13:13)

3. KASIH
Yesus telah mati untuk kita, sehingga kita tidak ada hak untuk menghakimi orang lain. Kejahatan kita atau dosa kita harus kita pertanggung jawabkan sendiri, walaupun yang menyebabkan orang lain. Dan Tuhan tidak menuntut siapa yang menyebabkan dosa, tetapi siapa yang berdosa. Tidak ada yang najis dari dirinya sendiri. Ada tuntutan kasih yang lebih dari tuntutan iman dan tuntutan harapan. Tuntutan kasih menempatkan kita pada sikap kehati-hatian dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kasih tidak akan pernah berhenti dalam hal TUNTUTAN. Tuntutan kasih terus berkelanjutan. 
Dimana dan bagaimana tuntutan kasih diberlakukan?
a. Berkomunikasi
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Kor 13:1).
Komunikasi kita kepada orang lain harus didasari kasih karena setiap apa yang keluar dari mulut kita berasal dari hati. Kasih harus mewarnai dalam setiap komunikasi kita.  Orang lain tidak akan berubah kalau kata- kata kita keluar dari tuntutan kasih karena perkataan yang tidak memenuhi tuntutan kasih tidak akan membangun orang lain. Kalau kita berkata-kata sesuai dengan tuntutan kasih akan membangun orang lain. Tuntutan kasih itu, “…sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”. (1 Kor 13:4-7)
b. Melayani
“Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (1 Kor 13:2) 
Berkomunikasi dengan seseorang harus dengan misi MELAYANI. Pelayanan tanpa kasih tidak berguna, setiap pelayanan harus didasari kasih. Pelayanan merupakan sarana memberikan sesuatu. Kalau kita punya kasih orang akan datang, orang akan mempercayai kita. Kasih harus mewarnai hubungan kita secara khusus dalam pelayanan.
c. Berbagi
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Kor 13:3).
Berbagi  tanpa  kasih  adalah omong kosong.
Pemberian kita harusnya yang menjawab kebutuhan orang lain. Dalam memberi ada tuntutan kasih, jangan sampai apa yang kita bagikan kepada orang lain membawa celaka (jangan melempar mutiara pada babi). Kasih itu mengarahkan, membangun, menguatkan orang lain. Biarlah pemberian kita yang kita bagikan kepada orang lain dapat menguatkan dan membangun.

Amin..

Tuhan Yesus Memberkati.

@Dra. Rajiyem